CONTOH HADITS BERDASAR SUMBERNYA
D. Contoh-contoh Hadits yang Menjadi Teladan
Banyak sekali macam-macam hadits ucapan, perbuatan, taqrir, rencana dan sikap Rasul SAW, antara lain:
1. Ucapan Nabi
Ucapan atau أقوال ialah segala yang disabdakan nabi dan didengar shahabat, baik yang berisi berita, perintah, larangan, ancaman, berita gembira atau pun lainnya. Perhatikan beberapa contoh berikut:
(a) Contoh Berita
Rasul SAW bersabda:
حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disenangi. Neraka dikelilingi dengan sesuatu yang menyenangkan.” Hr. Muslim.[1]
(b) Contoh larangan
Rasul SAW bersabda:
لا تَبَاغَضُوا وَلا تَحَاسَدُوا وَلا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
“Janganlah kamu saling membenci, jangan saling iri, jangan saling bertentangan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim meninggalkan (menjauhi) sesamanya melebihi tiga hari.” Hr. al-Bukhari, Muslim.[2]
(c). Contoh Perintah
Rasul SAW bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman pada Allah dan istqamahlah!” Hr. Muslim.[3]
(d). Contoh Menyangkal
Rasul SAW bersabda:
لا عَدْوَى وَلا صَفَرَ وَلا هَامَةَ
“Tidak ada pemindahan penyakit, tidak ada sial di bulan shafar dan tidak ada roh gentayangan (hantu).” Hr. al-Bukhari.[4]
Pada jaman jahliyah, orang biasa menyembelih hewan berkaitan dengan kematian, maka Rasul SAW bersabda:
وَلاَ عَقْرَ فِي الْإِسْلَامِ
“Tidak ada penyembelihan yang berkaitan dengan upacara kematian dalam Islam.” Hr. Ahmad, Abu Daud.[5]
(e). Contoh Ancaman
Rasul SAW bersabda:
إِنَّهُ لَيُعَذَّبُ بِخَطِيئَتِهِ وَذَنْبِهِ
“Sesungguhnya dia disiksa disebabkan kesalahan dan dosanya.” Hr. al-Bukhari dan Muslim.[6]
(f). Perintah yang disertai ancaman
Rasul SAW bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi zat yang diriku di tangan-Nya, hendaklah kamu memerintah yang ma’ruf melarang munkar atau Allah akan menimpakan siksa padamu. Kemudian kamu berdo’a ingin selamat darinya dan tidak dikabulkan.” Hr. Ahmad, al-Turmudzi.[7]
(g). Contoh Penggembira
Rasul SAW bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Shahabat bertanya siapa yang tidak mau masuk surga? Rasul bersabda: Siapa yang menaatiku masuk surga. Siapa yang mendurhakaiku, berarti tidak mau masuk surga.” Hr. al-Bukhari.[8]
Ketika Rasul SAW memberikan berita gembira kepada orang yang mengurus anak yatim, sambil memeragakan dengan jari tengah dan telunjuknya bergandengan, bersabda:
َأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Saya dan pengurus anak yatim di surga seperti ini. Hr. Al-Bukhari.”[9]
(h) Perintah disertai pengembira
Rasul SAW bersabda:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Cintailah yang di muka bumi, niscaya kamu akan dicintai oleh yang di langit.” Hr. Ahmad, Abu Daud, al-Turmudzi.[10]
2. Perbuatan Nabi
Perbuatan atau أَفْعَال yang di-lakukan Nabi SAW, dan diketahui shahabat,[11] baik yang berkaitan dengan ibadah ritual maupun kehidupan sosial.
a. Contoh Ritual
(1) Berkaitan dengan shalat
Cara menjadi imam:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَفَّ النَّاسِ صَلاةً عَلَى النَّاسِ وَأَطْوَلَ النَّاسِ صَلاةً لِنَفْسِهِ
“Adalah Rasul SAW yang paling meringankan manusia dalam melakukan shalat bersama mereka. Namun beliau paling panjang shalatnya bila melakukannya sendirian.” Hr. Ahmad[12]
Cara shalat di kendaraan:
عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ
“Amir bin Rabi’ah menerangkan, Saya Melihat Nabi SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap ke arah yang dihadapi kendaraannya itu.” Hr. al-Bukhari.[13]
Cara mengangkat tangan dalam shalat:
Abd Allah bin Umr bin al-Khathab menerangkan:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ
“Saya melihat Rasul SAW suka mengangkat tangan hingga lurus dengan bahu ketika mengawali shalat, ketika mau ruku dan ketika bangkit dari ruku. Beliau tidak mengangkat tangannya di antara dua sujud.” Hr. Muslim.[14]
(2) Perbuatan Rasul SAW yang berkaitan dengan shaum
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
“Aisyah menerangkan: Adalah Rasul SAW suka melakukan shaum pada hari senin dan kamis.” Hr. al-Turmudzi.[15]
Aisyah dan Umu Salamah menerangkan peristiwa yang dialami Rasul pada bulan Ramadlan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ ثُمَّ يَصُومُ
“Rasul pernah keshubuhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan shaumnya.” Hr. Muslim.[16]
(3) Af’al Rasul yang berkaitan dengan manasik haji
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبُ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيصَ الدُّهْنِ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ
“Aisyah menerangkan, Rasul SAW bila hendak ihram suka memakai wangi-wangian yang didapat. Kemudian nampak kelihatan kemilau rambut kepala dan jenggotnya setelah itu.” Hr. Muslim.[17]
Jumlah umrah dan haji Rasul SAW diterangkan berikut:
عَنْ قَتَادَةَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمْ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ وَعُمْرَةٌ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَالَحَهُمْ وَعُمْرَةُ الْجِعِرَّانَةِ إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً
“Dari Qatadah : Saya bertanya kepada Anas tentang berapa kali Rasul SAW berumrah? Beliau menerangkan bahwa Rasul berumah empat kali yaitu umrah perjanjian al-Hudaibiyah pada bulan dzul-Qa’dah hingga dihalangi musyrikin, umrah tahun berikutnya bulan dzul-Qa’dah bertepatan dengan perdamian, umrah Ji’ranah tatkala pembagian ghanimah peristiwa Hunain. Aku bertanya berapa kali beliau berhaji? Anas menjawab: Rasul berhaji satu kali.” Hr. al-Bukhari.[18]
Berdasar hadits ini Rasul SAW berumrah empat kali, yaitu: (1) Umrah Hudzaibiyah, (2) Umrah al-Qadla, (3) Umrah Ji’ranah dan (4) umrah yang beriringan dengan ibadah haji.
(4) Qurban
Aisyah menerangkan:
وَضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِسَائِهِ بِالْبَقَرِ
“Rasul SAW pernah berqurban atas nama istrinya dengan menyembelih sapi.” Hr. Ahmad.[19]
Anas bin Malik bercerita:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَتِهِمَا وَيَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ
“Rasul SAW berkurban dengan dua ekor domba yang bagus. Saya melihat beliau meletakkan telapak kakinya di atas rusuk binatang, sambil menyebut nama Allah, bertakbir dan menyem-belihnya dengan tangan beliau sendiri.” Hr. al-Bukhari.[20]
b. Contoh Kehidupan Sosial
(1) Berkaitan dengan keluarga
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ
“Aisyah menerangkan: Adalah Rasul SAW bila mau bepergian suka mengundi antara para istrinya. Beliau pergi bersama istri yang mendapat undian gilirannya itu.” Hr.al-Bukhari, Muslim, Abu Daud.[21]
Dalam hadits ini tersirat bahwa: (1) Rasul SAW bila bepergian jauh suka membawa istrinya, (2) pemilihan istri yang akan dibawa dilakukan dengan digilir semacam arisan, (3) menegakkan keadilan dalam keluarga dan (4) memberikan hak yang sama pada semua istri.
(2) Berkaitan dengan ekonomi
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ لِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَيْنٌ فَقَضَانِي وَزَادَنِي
“Jabir bin Abd Allah menerangkan: Nabi SAW pernah berutang padaku, kemudian membayarnya dan memberikan tambahan padaku.” Hr. Muslim.[22]
(3) Berkaitan dengan masyarakat
Rasul SAW selalu baik dan jelas dalam berbicara kepada orang lain.
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللَّهُ قَالَتْ كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Aisyah r.a menerangkan: Adalah Rasul SAW bila berbicara dengan bahasa yang jelas sehingga setiap yang mendengarnya selalu memahami apa yang dikatakannya.” Hr. Abu Dawud.[23]
Memilih waktu yang tepat untuk memberi nasihat:
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا
“Ibn Mas’ud menerangkan: Adalah Rasul SAW suka memilih hari-hari yang tepat dalam memberikan pelajaran, supaya kami tidak merasa bosan.” Hr. al-Bukhari.[24]
(4) Berkaitan dengan penegakkan hukum
عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَلَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ
“Anas bin Malik menerangkan bahwa Rasul SAW dan Abu Bakar menghukum orang yang kecanduan khamr dengan menderanya dengan pelapah dan terompah sebanyak empat puluh kali”. Hr. al-Bukhari.[25]
(5) Berkaitan dengan perjuangan
Rasul SAW berjuang melalui da’wah secara bertahap.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَكَثَ بِهَا عَشْرَ سِنِينَ ثُمَّ تُوُفِّيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasul SAW menerima wahyu ketika berusia empat puluh tahun, kemudian tetap di Makah selama tiga belas tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama sepuluh tahun hingga wafat.” Hr. Ahmad, al-Bukhari, [26]
Rasul SAW berjuang melalui perang melawan kejahatan dan menghancurkan kemusyrikan. Ibn Abbas menerangkan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزَا غَزْوَةَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ
“Sesungguhnya Rasul SAW berperang membebaskan kota Mekah hingga meraih kemenangan pada bulan Ramadlan.” Hr.al-Bukhari.[27]
Dalam riwayat Zaid bin Arqam diterangkan bahwa Rasul SAW berperang melawan kekejaman kaum musyrikin sampai sembilan belas kali.[28]
3.Sifat Nabi
a. Sifat Khuluqiyah
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Anas bin malik menerangkan bahwa Rasul SAW adalah yang paling baik budi pekertinya.” Hr. Muslim.[29]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ
“Abi Hurairah menerangkan bahwa Rasul SAW tidak pernah mencela suatu makanan apapun. Jika beliau doyan maka memakannya dan jika tidak maka beliau tinggalkan.” Hr. al-Bukhari.[30]
b. Sifat Khalqiyah
Jabir bin Samurah menerangkan:
وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ
“Adalah Rasul SAW berjenggot sangat lebat.” Hr. Muslim.[31]
Al-Barra menerangkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ
“Adalah Rasul SAW orang yang paling tampan wajahnya, paling indah perawakannya, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.” Hr.al-Bukhari,[32]
4. Perbuatan Shahabat yang dibiarkan Rasul SAW
Perbuatan shahabat yang diketahui Rasul SAW dan beliau tidak menegurnya merupakan sumber teladan yang sering disebut hadits taqriri. Contohnya antara lain:
عَنْ أنس قال َسافَرْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فِيْ رَمضَانَ فَصَامَ بَعْضُنَا وَأفْطَرَ بَعْضُنَا فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِر وَلا المُفطِر عَلَى الصَّائِمِ
“Kata Anas bin Malik: Kami bepergian bersama Rasul SAW pada bulan Ramadlan. Di antara kami ada yang berbuka dan ada pula yang tetap shaum. Yang shaum tidak mencela yang buka. Yang berbuka tidak mencela yang shaum.” Hr. Muslim, Abu Daud.[33]
5. Perbuatan Shahabat yang dikuatkan Rasul SAW
Shalat witir antara yang dilakukan sebelum atau sesudah tidur.
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ مَتَى تُوتِرُ قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَقَالَ لِعُمَرَ مَتَى تُوتِرُ قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ وَقَالَ لِعُمَرَ أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ
“Dari Abi Qatadah diriwayatkan bahwa Rasul SAW bertanya kepada Abu Bakar: Kapan anda shalat witir? Beliau menjawab sejak awal malam. Kemudian bersabda kepada Umar: Kapan anda shalat witir? Umar menjawab: Di akhir malam! Kemudian rasul bersabda kepada Abu Bakar: Engkau orang yang hati-hati!. Beliau bersabda pada Umar: Engkau orang yang kuat.” Hr. Ahmad Abu Daud.[34]
6. Perbuatan Shahabat yang diperbaiki Rasul SAW
Ammar Bin Yasir menyatakan pada Umar bin al-Khathab:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَنِي أَنَا وَأَنْتَ فَأَجْنَبْتُ فَتَمَعَّكْتُ بِالصَّعِيدِ فَأَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْنَاهُ فَقَالَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Rasul SAW pernah mengutusku bersama engkau dalam satu tugas. Saya saat itu terkena junub maka berguling-guling di atas tanah (untuk mengganti mandi jinabat). Kemudian kita menghadap Rasul SAW dan menyampai-kannya. Rasul SAW bersabda: Sebenarnya anda cukup melakukan begini; beliau bertayamum dengan menyapukan telapak tangannya ke wajah dan pada kedua tangannya, satu kali. Hr. Al-Bukhari.”[35]
Dalam riwayat Muslim dijelaskan:
وَضَرَبَ بِيَدَيْهِ إِلَى الْأَرْضِ فَنَفَضَ يَدَيْهِ فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ
“Rasul SAW mengenakan telapak tangannya pada bumi dan meniupnya, lalu mengusapkan telapak tangannya pada wajah dan dua kaf (punggung dan telapak tangan)nya.” Hr. Muslim.[36]
7. Rencana Rasul SAW
Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ketika Rasul SAW berhasil menaklukan Mekah (Ramadlan 8H), beliau menetapkan rencana sambil berdo’a kepada Allah SWT untuk menaklukan kerajaan Romawi dan Parsi sehingga turunlah Qs.3:26-27.[37] Rencana tersebut terlaksana pasca Rasul SAW wafat. Kerajaan Parsi dapat ditaklukan pada jaman kekhalifahan Abu Bakar dan Romawi ditaklukan pada jaman Umar bin Khathab.
Ibn Abbas menerangkan:
صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Rasul SAW shaum pada tanggal sepuluh muharam dan memerintah kita untuk melakukannya. Kemudian shahabat bertanya: Wahai rasul bukankah hari itu yng dimuliakan yahudi dan nashrani? Kemudian Rasul SAW bersabda: Jika tahun depan saya masih hidup, akan melakukan shaum juga tanggal sembilan muharram. Namun, ternyata beliau tidak sampai tahun berikutnya karena wafat.” Hr. Abu Daud.[38]
8. Yang Sengaja Ditinggalkan Rasul SAW
Kesengajaan Rasul meninggalkan sesuatu, juga termasuk sumber teladan. Kategori ini ada yang menyebutnya sebagai حديث تركي. Contohnya cukup banyak, seperti Rasul SAW tidak menggunakan Jin dalam menggali parit Khandak, tidak minta bantuan mala`ikat untuk menghancurkan kaum musyrikin yang menyiksa Hamzah.
Dalam hal ibadah shaum :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا كَامِلًا قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ
“Ibn Abbs menerangkan Rasul SAW tidak melaksanakan shaum satu bulan penuh selain bulan Ramadlan.” Hr. Al-Bukhari.[39]
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Aisyah r.a menerangkan: Kaum Qurasiy jaman jahiliyah melakukan shaum pada hari Asyura (tanggal 10 muharam). Tatkala sampai di Madinah, Rasul SAW melakukannya dan memerintahnya. Namun, ketika shaum Ramadlan telah difardlukan maka Rasul SAW meninggalkan shaum asyura. Maka barang siapa yang mau melakukannya, lakukanlah, atau tidak melakukannya. Hr. al-Bukhari.[40]
Rasul SAW meninggalkan shalat sebelum atau sesudah shalat ied, sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas yang mengatakan:
خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عِيدٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلُ وَلَا بَعْدُ
“Rasul SAW keluar pada hari ied untuk shalat dua rakaat. Beliau tidak melakukan shalat baik sebelum maupun sesudah shalat ied.” Hr. al-Bukhari
[1] Shahih Muslim, IV h.2174
[2] Shahih al-Bukhari, no.5605, Shahih Muslim, no.4641
[3] Shahih Muslim, no.55
[4] Shahih al-Bukhari, no.5278
[5] Musnad Ahmad, no.12550, Sunan Abi Daud, no.2805
[6] Shahih al-Bukhari, no.3681, Shahih Muslim, no.1547
[7] Musnad Ahmad, 22238, Sunan al-Turmudzi, no.2095,
[8] Shahih al-Bukhari, no.6737
[9] Shahih al-Bukhari, no.4892
[10] Musnad Ahmad, II h.160, Sunan Abi Daud, IV h.285, Sunan al-Turmudzi, IV h.323,
[11] shahabat ialah orang yang bertemu Nabi SAW dalam keadaan muslim dan wafat sebagai muslim
[12] Musnad Ahmad, no.20902
[13] shahih al-Bukhari, no.1030
[14] Shahih Muslim, no.586
[15] Sunan al-Turmudzi, no.676
[16] Shahih Muslim, no.1864
[17] Shahih Muslim, no.2053
[18] Shahih al-Bukhari, no.1654
[19] Musnad Ahmad, no.22980
[20] Shahih al-Bukhari, no.5138
[21] Shahih al-Bukhari, no.2404, Shahih Muslim, no.4477, Sunan Abi Daud, no.1826
[22] Shahih Muslim, 1168
[23] Sunan Abi Dawud, no.4199
[24] Shahih al-Bukhari, no.66
[25] shahih al-Bukhari, no.6278
[26] Musnad ahmad, I h.236, Shahih al-Bukhari, III h.1398
[27] Shahih al-Bukhari, no.3940
[28] Shahih al-Bukhari, no.3655
[29] Shahih Muslim, no.4273
[30] Shahih al-Bukhari, no.3299
[31] Shahih Muslim, no.4326
[32] Shahih al-Bukhari, no.3285
[33] Shahih Muslim, II h.787, Sunan Abi Daud, II h.316
[34] Musnad, no. 13803, Sunan Abi Daud, II h.66
[35] Shahih al-Bukhari, 334
[36] Shahih Muslim, 552
[37] Ibn jarir al-Thabari (224-310H), Tafsir al-Thabari, III h.222, Ibn Hajar al-Asqalani, al-‘Ijab fi bayan al-Asbab, II h.675
[38] Sunan Abi Daud, no. 2089
[39] Shahih al-Bukhari, no.1835
[40] Shahih al-Bukhari, no.1863